Art

SMA WIJAYA PUTRA SURABAYA

seni budaya Maret 16, 2009

Filed under: Uncategorized — loeisy @ 5:24 am
SENI BUDAYA
GAMELAN JAWA

Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang digubah oleh Sunan Bonang, guna mendorong kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam Malakut)”Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut masih dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam, juga pada pentas-pentas seperti: Pewayangan, hajat Pernikahan dan acara ritual budaya Keraton.


WAYANG KULIT

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme.
Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.


TARIAN JAWA

Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.
Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatarbelakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kangjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan/Samudra Indonesia) (Soedarsono, 1990). Tarian ini ditampilkan oleh sembilan penari wanita.


KERIS JAWA

Keris dikalangan masyarakat di jawa dilambangkan sebagai symbol “ Kejantanan “ dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka. Di kalender masyarakat jawa mengirabkan pusaka unggulan keraton merupakan kepercayaan terbesar pada hari satu sura.
Keris pusaka atau tombak pusaka merupakan unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsure besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada sang maha pencipta alam ( Allah SWT ) dengan duatu apaya spiritual oleh sang empu. Sehingga kekuatan spiritual sang maha pencipta alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.


KETOPRAK

Ketoprak kalebu salah sawijining kesenian rakyat ing Jawa tengah, ananging ugo bisa tinemu ing Jawa sisih Wetan (Jawa Timur ).Ketoprak wis nyawiji dadi budaya masyarakat Jawa tengah lan biso ngasorake kesenian liyane ,umpamane Srandul, Emprak lan sakliyane. Ketoprak wiwit bebukane awujud dedolanan para priyo ing dusun kang lagi nganaake lelipur sinambi nabuh lesung kanthi irama ana ing waktu wulan purnama ndadari , kasebut Gejog. Ana ing tembe kaering tembang bebarengan ing kampung /dusun kanggo lelipur . Sak teruse ana tambahan gendang, terbang lan suling, mula wiwit saka iku kasebut Ketoprak Lesung, kira-kira kadadeyan ing tahun 1887. Sak banjure ana ing tahun 1909 wiwitan dianaake pagelaran Ketoprak kanthi paripurna/lengkap.
Pagelaran Ketoprak wiwitan kang resmi ing ngarsane masyaraket/umum, yokuwi Ketoprak Wreksotomo, dipandegani dening Ki Wisangkoro, sing mandegani kabeh para pria. Carita kang dipagelarake yoiku : Warso – Warsi, Kendono Gendini, Darmo – Darmi, dlan sapanunggalane.
Sak wise iku pagelaran Ketoprak sang soyo suwe dadi lan apike lan dadi klangenane masyarakat, utamane ing tlatah Yogyakarta. Ing kadadeyan sak wise Pagelaran Ketoprak dadi pepak anggone carita lan ugo kaering gamelan . Anane gegayutan karo pagelaran “teater” para narapraja ,

SUMBER: WWW.GOOGLE.COM

 

seni teater Maret 16, 2009

Filed under: Uncategorized — loeisy @ 5:17 am
Mata lomba Seni Teater dalam PKS XIII di Denpasar digelar pada Selasa (14/6) malam bertempat di komplek Taman Budaya. Meskipun hanya diikuti oleh 4 peserta yaitu perwakilan dari provinsi Yogyakarta, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur namun mampu menarik perhatian. Hal ini ditandai dengan banyaknya penonton yang dengan antusias menyaksikan jalannya lomba. Para penonton dengan bersemangat mengikuti penampilan peserta satu demi satu karena mereka tampil dengan karakter dan latar belakang cerita yang berbeda.
Pada giliran tampil pertama, perwakilan dari provinsi Yogyakarta SMKN 1 Kasihan membawakan judul “Bendhe Mataram” hasil tulisan naskah dari Handung Kuss Sudyarsana. Dengan mengandalkan 8 pemain, Bendhe Mataram mengisahkan tentang Pangerah Diponegoro yang merasa kasihan melihat rakyat yang menderita akibat ditindas para penjajah. Kemarahan itu memuncak ketika Belanda membuat jalur kereta api yang melewati Padepokan Pangeran diponegoro di Tegalrejo. Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro didukung oleh rakyat. Tetapi belakangan diketahui ternyata Soma Kancil yang licik mampu mempengaruhi beberapa anak buah Pangeran Diponegoro untuk berbalik memihak musuh dengan iming-iming harta. Namun itu semua tidak membuat Pangeran Diponegoro patah semangat, beliau dengan gigih melawan Belanda karena merupakan tugas suci untuk membela bumi kelahiran.
Tampil pada urutan kedua, giliran SMKN 7 Padang yang mewakili provinsi Sumatera Barat membawakan teater tradisi berjudul “Rajo Sipatokah”. Diceritakan bahwa Rajo Sipatokah adalah tokoh yang kaya dan terpandang dari kalangan bangsawan. Hal itu membuat Mandeh Salamah, ibu dari Puti Ameh Manah ingin mengawinkan putrinya dengan Rajo Sipatokah dengan harapan kelak istrinya dapat hidup berkecukupan dan dia juga ikut mendapatkan kemuliaan. Namun hal itu ditentang oleh anaknya (Puti Ameh Manah). Karena sang putri telah memiliki kekasih, seorang pemuda desa yang tampan bernama Sutan Sari Dewa. Ketika Sutan Sari Dewa pergi merantau, Mandeh Salamah kembali membujuk Puti Ameh Manah agar mau menerima lamaran Rajo Sipatokah, namun hal itu tetap ditolaknya bahkan sang putrid justru pergi meninggalkan rumah. Namun akhirnya berhasil ditangkap oleh anak buah Rajo Sipatokah dan diserahkan kepadanya. Ketika Sutan Sari Dewa pulang dari rantau, dia langsung menuju kediaman Rajo Sipatokah untuk mengambil Puti Ameh Manah. Namun lagi-lagi dia harus berhadapan dengan anak buka Rajo Sipatokah.
Peserta dari Jawa Tengah diwakili oleh SMKN 8 Surakarta tampil pada urutan ketiga membawakan judul “Genduk Gotri Gugat” naskah karya St. Wiyono, S.Kar. Tontonan yang disajikan memiliki teman ganda yaitu tentang idealisme seseorang dan pertentangan antara faham feodalisme dan demokrasi. Dikisahkan Ki Dalang yang sedang berlatih diganggu oleh Thole keponakannya yang menghendaki agar kesenian wayang harus dihentikan karena mengganggu proses demokrasi yang sedang berjalan, karena wayang merupakan bagian dari kesenian feodal. Namun demikian Ki Dalang menolaknya dan tetap berusaha untuk mempertahankan eksistensi kesenian wayang.Karena dari wayang bukan hanya sekedar tontotan namun mengandung banyak ajaran dan tuntutan didalamnya. Hal yang menarik dalam pementasan ini adalah kemampuan menggabungkan tema utama dengan  permasalahan aktual yang ada saat ini yaitu mengenai pimilihan kepala daerah (pilkada).

SMKN 9 Surabaya sebagai wakil dari Jawa Timur tampil pada giliran terakhir dengan membawakan judul “Kereta Kencana” yang diambil dari judul aslinya “Kursi-Kursi (Les Chaises)” ciptaan Eugene Ionesco pada tahun 1950-an. Mengisahkan tentang masa-masa mencekam di hari tua yang menimbulkan kehampaan bagi sebagian orang. Digambarkan kakek dan nenek adalah gambaran manusia yang menanti datangnya kematian dengan mewujudkan ilusi-ilusi yang menghibur mereka berdua. Jalan cerita yang disajikan melingkar, dengan digambarkan terjalinnya kejadian masa lampau dengan masa sekarang. (team liputan)

sumber: www.google.com

 

Hello world! Februari 18, 2009

Filed under: Uncategorized — loeisy @ 11:47 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.